Sabtu, 29 Maret 2014

Satu Momen

Diposting oleh Fanisa Story di 06.56 0 komentar




Aku tidak yakin bahwa ini terlalu cepat berlalu, bahkan terkesan buru-buru.
Kehadiranmu memang sudah aku sadari dari sekitar empat bulan lalu, tapi kutampik jauh-jauh.
Awalnya aku hanya tau diri, berusaha tidak memperdulikanmu karna aku tidak begitu yakin.
Tapi caramu melihatku, membuatku ingin menerka sesuatu.
Kurasa aku terlalu peka , atau mungkin hanya percaya diri saja.
 kau memang tengah melirikku.
Hingga  dua bulan lalu kau nyata datang dihadapanku.
Masih membuatku ragu memang ,  meski saat itu semua mulai transparan.
Perhatianmu, cara bicaramu, tingkah lakumu, semua itu sudah cukup bagiku untuk yakin.
Perlahan kau memang membuatku menerka –nerka lebih jauh.
Saat itu egoku masih kupertahankan, bahwa aku tau bukan kau yang kumau.
Waktu berjalan, dua bulan sudah kau ada dihadapanku seperti menawarkan sesuatu.
Masih juga aku ragu, dan parahnya ingin tetap mengujimu dulu.
Hingga aku sadar , kau mulai lelah menjauh perlahan, dan berlalu.
Aku terpaku sejenak, menyadari sesuatu.
Ya, kau sudah menjadi candu, membuatku menunggu.
Menyadari ini telah usai, membuatku menertawai diriku sendiri.
Betapa lemahnya hati ini, terlalu mudah dirasuki rasa hangat yang semu.
Dan yang pasti, terimakih pernah hadir, mengisi  lemar cerita hidup ini.
Meski pada akhirnya, semua menjadi cerita yang tak usai.



Rabu, 05 Maret 2014

“Kenapa Cinta sering kali tidak berada ditempat yang sama?”

Diposting oleh Fanisa Story di 18.05 0 komentar





Pernahkah kau merasa pertanyaan ini tepat, Atau hanya aku saja yang merasa bahwa pertanyaan ini sangat tepat?
Kita lihat saja, terlalu banyak kisah cinta yang terabaikan, terlalu banyak kisah cinta yang akhirnya tak punya arah, atau kisah cinta yang berakhir tanpa arti.
Lalu untuk apa sebenarnya kisah-kisah ini ada, jika pada akhirnya menjadi sesuatu yang sia-sia?
Aku pernah menemukan seseorang yang sepertinya, kuduga melihatku dengan tatapan berbeda, seoalah menawarkan hatinya untuk dapat ku miliki seutuhnya, hingga pada saat yang kurasa salah, aku menyadari segalanya, bahwa akulah yang telah memberikannya hati hampir seutuhnya, lalu dia pergi.
Begitu menyakitkan, memang. hingga kupikir hidup ini akan berakhir sekejap lagi. Dan dengan bodoh ingin rasanya aku terlelap saja agar bisa melupakan sakitnya mencintai tanpa arti, mengharapkan sesuatu yang tak punya kejelasan pasti.
Lalu kini saat aku mulai bangkit, ada pula yang menawarkanku hati untuk kumiliki seutuhnya dan ini bukan dugaan lagi.
Aku diam, menanti rasa yang sama seperti saat aku menawarkan hati, tapi gagal. Dan ini membuatku berfikir hampir gila, tak kurasakan apapun, hanya rasa ingin membalasnya tapi tak sanggup juga.
Melelahkan nyatanya, saat aku tau pasti, cinta ini pun tidak berada di tempat yang sama.


 

Fanisa Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea