Aku tidak yakin
bahwa ini terlalu cepat berlalu, bahkan terkesan buru-buru.
Kehadiranmu
memang sudah aku sadari dari sekitar empat bulan lalu, tapi kutampik jauh-jauh.
Awalnya
aku hanya tau diri, berusaha tidak memperdulikanmu karna aku tidak begitu
yakin.
Tapi
caramu melihatku, membuatku ingin menerka sesuatu.
Kurasa
aku terlalu peka , atau mungkin hanya percaya diri saja.
kau memang tengah melirikku.
Hingga dua bulan lalu kau nyata datang dihadapanku.
Masih
membuatku ragu memang , meski saat itu
semua mulai transparan.
Perhatianmu,
cara bicaramu, tingkah lakumu, semua itu sudah cukup bagiku untuk yakin.
Perlahan
kau memang membuatku menerka –nerka lebih jauh.
Saat
itu egoku masih kupertahankan, bahwa aku tau bukan kau yang kumau.
Waktu
berjalan, dua bulan sudah kau ada dihadapanku seperti menawarkan sesuatu.
Masih
juga aku ragu, dan parahnya ingin tetap mengujimu dulu.
Hingga
aku sadar , kau mulai lelah menjauh perlahan, dan berlalu.
Aku
terpaku sejenak, menyadari sesuatu.
Ya,
kau sudah menjadi candu, membuatku menunggu.
Menyadari
ini telah usai, membuatku menertawai diriku sendiri.
Betapa
lemahnya hati ini, terlalu mudah dirasuki rasa hangat yang semu.
Dan
yang pasti, terimakih pernah hadir, mengisi
lemar cerita hidup ini.
Meski
pada akhirnya, semua menjadi cerita yang tak usai.

