Rabu, 29 Agustus 2012

sempurna

Diposting oleh Fanisa Story di 01.35 0 komentar

ungkapan dalam persahabatan

oleh DJe Eifelinna pada 29 Agustus 2012 pukul 14:56 ·

taukah kau
disaat semua orang mengharapkan kebahagiaan yang sempurna
teman yang setia
pacar yang romantis
aku tidak membutuhkan itu semua!
karena...
saat ini, bersama-sama dengan kalian merupakan kebahagiaan
yang teramat sangat cukup bagiku
bersama-sama dengan kalian itu adalah sebuah KESEMPURNAAN
hanya seperti ini, hanya waktu ini
hanya kalian yang aku butuhkan
aku, kamu, kita SATU..
SATU untuk saling memahami
aku, kamu, kita SAMA..
SAMA-sama untuk saling menyayangi
aku berharap..
tidak akan pernah ada kata perpisahan diantara kita
apapun rintangan yang ku hadapi
sebesar apapun cobaan yang kuhadapi
hanya dengan senyum yang kalian berikan
itu dapat membuat semuanya kembali baik-baik saja :)
_CCK_

Minggu, 26 Agustus 2012

ungkapan

Diposting oleh Fanisa Story di 22.19 0 komentar

Yang Enggan Kau Lepaskan

oleh Nia Bactiar pada 25 Agustus 2012 pukul 13:07 ·


Merelakan apa yg begitu kita inginkan. Ya, menyakitkan. Sakitnya tak cukup hanya sehari dua hari. Terkadang terbawa sampai mati.

Seperti kalian, tentu aku sering kali merasakannya, walau tak setiap waktu. Tapi entah mengapa, merelakan apa yg begitu diinginkan -- tak pernah mampu terbiasa mengalaminya. Selalu saja berhasil membuatku menangis lagi, dan lagi. Aku benci ketika mengalaminya, kemudian kembali mempertanyakan kemampuan diri sendiri, mempertanyakan soal usaha yg telah dikerahkan. Dan bagian yg paling kubenci, mempertanyakan sayang Tuhan, padaku. Sungguh aku benci bagian yg itu. Aku benci ketika aku mulai mempertanyakan apa yg Dia beri padaku.

Seseorang harus mendengar keluhanku kemudian, rengekkan sumbang. Ya, mereka adalah sahabat. ingin selalu bisa menceritakan yg baik-baik saja, tapi kembali lagi menyampah hal yg sama. Gagal, terkadang gagal membuatku menjadi manusia yg paling menyebalkan yg mampu kalian temui. Dan aku sering kali memilih untuk menyimpan kegagalanku sendiri. Memasukkannya dalam laci dan berharap kemudian mereka hilang begitu saja.

Saat kecil, ketika aku tidak mendapatkan apa yg aku inginkan. Aku akan merengek seharian lalu kemudian ibuku lelah mendengarnya dan menjadikannya nyata. Ibu, bisa jadi seperti Tuhan dalam wajah lain. Mengalah pada harapan anak-anaknya, walau belum tentu baik. Tetapi Tuhan tidak selemah mereka. Tuhan selalu hanya memiliki satu keputusan, bagaimana kau mampu menggoyahkanNya. Ketika kau bahkan tak tau apa yg sedang Dia persiapkan untukmu. Manusia cenderung sok tau. Dan Tuhan tak suka didahului keputusanNya. Kurasa ya, kurasa Tuhan tidak suka.

Ya, ini soal merelakan apa yg begitu kau inginkan. Tak melulu soal cinta, tak melulu urusan hati. Mereka walau butuh waktu, tapi akan sembuh kemudian berlalu. Tapi ketika kau harus merelakan impianmu, sebagian dari isi tujuan hidupmu. Ceritanya menjadi lebih dramatis. Menjadi tak cukup habis dalam satu episode saja. Atau bahkan akan menjadi film yg tak terselesaikan, yg bagian endingnya hanya memunculkan pertanyaan di benak penonton. Tapi aku sedang tidak menonton, aku lah yg menjalaninya. Aku ingin penonton pulang tanpa pertanyaan, dan kemudian aku terselesaikan. Katanya, film yg menggantungkan benak penontonnya, adalah film keren. Tapi siapa yg ingin cerita hidupnya digantungkan. Pernahkan kalian pikirkan nasib tokoh yg ada didalamnya. Menyedihkan.

Aku memilih untuk terus berjalan. Memang ada pilihan lain? Mati pun aku tak berani, menjadi seonggok jasad yg kehujanan di dalam tanah basah bukanlah hal keren. Aku belum mau mati, tentu aku masih ingin dicintai dan menghidupi hidupku ini.

Aku sedang mencoba merelakan apa yg begitu aku inginkan, dulu aku mampu merelakan yg lain, maka kenapa yg ini tidak? Aku tentu akan merelakannya, aku hanya butuh waktu -- aku butuh mereka. Mereka saja, mereka yg mampu membereskan segalanya.

Ini adalah tentang sesuatu yg begitu enggan kau lepaskan.
Semoga Tuhan tidak (lagi lagi) membaca tulisan ini. Dia sudah cukup bosan mendengarnya dari dalam hatiku. Melebihi berkali-kali.

-- Hakuna Matata --  @Falafu

understand

Diposting oleh Fanisa Story di 08.56 0 komentar



Mungkin aku bukanlah seorang sastrawan yang bisa merangkai kata-kata indah, aku juga bukan seorang psikolog yang bisa membaca setiap karekter manusia dari tingkah lakunya, atau bahkan seorang dokter yang mampu menyembuhkan seseorang dari penyakitnya. Namun aku adalah aku, seorang gadis berusia 17 tahun yang ingin belajar tentang arti kehidup, arti menyayangi , arti mencintai dan arti memahami.


Aku pernah merasakan menyayangi dan disayangi,aku pernah merasakan mencintai dan dicintai, bahkan aku pernah merasakan dipahami oleh orang lain, karna yang kutau memahami bukanlah sesuatu yang mudah, layaknya senyawa-senyawa kimia yang mampu dipecahkan oleh rumus-rumus kimia.


Dan disinilah aku belajar memahami, belajar mengerti .Mungkin aku tak dapat merasakan apa yang orang lain rasakan , tapi aku berusaha untuk merasakan,berusaha menjadi bagian dari rasa yang ia rasakan.


Aku memulai langkahku disini, di tempat yang membuatku ingin semakin belajar memahami, semakin bisa mengerti, mengerti akan setiap keluh kesah ,atau rasa suka cita yang terlontar dari sahabat-sahabat terbaiku,  yang sedang dirasakannya. karna aku hanya ingin menjadi bagian dari mereka, mereka yang membuatku merasakan menyayangi dan disayangi, mereka yang mincitaiku, dan mereka yang mampu memahamiku.


Yang ku tahu setiap kisah akan berjalan dengan baik, ketika kita dapat saling memahami menjadikannya satu ikatan dalam untaian benang yang berkaitan, dalam lembaran cerita yang berisikan aku, kamu dan mereka yang menyatu dalam takdir kehidupan, dari secercah rasa saling menyayangi,mencintai dan karna mampu memahami.

Senin, 13 Agustus 2012

Puisi

Diposting oleh Fanisa Story di 09.04 0 komentar

Tersesat kelabu
Setitik embun
Mulai membasahi lagi
Kembali menanti sanubari
Berkutat pada nurani
            Jengah dengan senyum itu
            Sebatas raga tak mampu
            Bertumpu pada hati yang rapuh
            Terlalu lemah hingga tersungkur pilu
Menjelajahi hangat mata itu
Tersesat tak sanggup berlalu
Masih disana,terduduk tertipu
Tak mampu berlari,jalanku buntu
            Merayap tanpa ragu
            Karna aku sungguh-sungguh
Sayang aku tak mampu,
Aku tak berdaya,tersesat kelabu.
                                                                                                                        fanisa

Minggu, 12 Agustus 2012

Friendship

Diposting oleh Fanisa Story di 05.48 0 komentar

 



 Mungkin ini memang hanya sebuah kisah klasik yang terkadang terdengar sedikit basi. Tapi inilah kisah kita aku kamu dan mereka . Kita dipertemukan dalam sebuah ruang lingkup pendidikan yang kusebut sebagai bangku sekolah, dalam balutan putih abu-abu kita melangkah bersama menikmati kebersamaan dalam kesempatan yang mungkin tak dapat kita ulang, kebersamaan yang mampu membuatku mengerti arti dari sebuah Persahabatan. Persahabatan yang ingin kujadikan sebuah memori tak terlupakan hingga kelak kita dipisahkan oleh waktu, kisah yang hanya bisa diabadikan dalam hati, yang akan menjadi sesuatu yang mampu membuat kita tersenyum kala mengenangnya. Kisah yang terukir dari berbagai rasa yang ada senang sedih dan duka, dari berbagai suasana yang menciptakan tawa,air mata dan juga segenap kerinduan yang ada, karna disinilah kita berkumpul dan untuk inilah kita bersatu mengukir kisah klasik yang terselip dalam cerita Putih abu-abu.
 

Fanisa Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea