Minggu, 26 Agustus 2012

ungkapan

Diposting oleh Fanisa Story di 22.19

Yang Enggan Kau Lepaskan

oleh Nia Bactiar pada 25 Agustus 2012 pukul 13:07 ·


Merelakan apa yg begitu kita inginkan. Ya, menyakitkan. Sakitnya tak cukup hanya sehari dua hari. Terkadang terbawa sampai mati.

Seperti kalian, tentu aku sering kali merasakannya, walau tak setiap waktu. Tapi entah mengapa, merelakan apa yg begitu diinginkan -- tak pernah mampu terbiasa mengalaminya. Selalu saja berhasil membuatku menangis lagi, dan lagi. Aku benci ketika mengalaminya, kemudian kembali mempertanyakan kemampuan diri sendiri, mempertanyakan soal usaha yg telah dikerahkan. Dan bagian yg paling kubenci, mempertanyakan sayang Tuhan, padaku. Sungguh aku benci bagian yg itu. Aku benci ketika aku mulai mempertanyakan apa yg Dia beri padaku.

Seseorang harus mendengar keluhanku kemudian, rengekkan sumbang. Ya, mereka adalah sahabat. ingin selalu bisa menceritakan yg baik-baik saja, tapi kembali lagi menyampah hal yg sama. Gagal, terkadang gagal membuatku menjadi manusia yg paling menyebalkan yg mampu kalian temui. Dan aku sering kali memilih untuk menyimpan kegagalanku sendiri. Memasukkannya dalam laci dan berharap kemudian mereka hilang begitu saja.

Saat kecil, ketika aku tidak mendapatkan apa yg aku inginkan. Aku akan merengek seharian lalu kemudian ibuku lelah mendengarnya dan menjadikannya nyata. Ibu, bisa jadi seperti Tuhan dalam wajah lain. Mengalah pada harapan anak-anaknya, walau belum tentu baik. Tetapi Tuhan tidak selemah mereka. Tuhan selalu hanya memiliki satu keputusan, bagaimana kau mampu menggoyahkanNya. Ketika kau bahkan tak tau apa yg sedang Dia persiapkan untukmu. Manusia cenderung sok tau. Dan Tuhan tak suka didahului keputusanNya. Kurasa ya, kurasa Tuhan tidak suka.

Ya, ini soal merelakan apa yg begitu kau inginkan. Tak melulu soal cinta, tak melulu urusan hati. Mereka walau butuh waktu, tapi akan sembuh kemudian berlalu. Tapi ketika kau harus merelakan impianmu, sebagian dari isi tujuan hidupmu. Ceritanya menjadi lebih dramatis. Menjadi tak cukup habis dalam satu episode saja. Atau bahkan akan menjadi film yg tak terselesaikan, yg bagian endingnya hanya memunculkan pertanyaan di benak penonton. Tapi aku sedang tidak menonton, aku lah yg menjalaninya. Aku ingin penonton pulang tanpa pertanyaan, dan kemudian aku terselesaikan. Katanya, film yg menggantungkan benak penontonnya, adalah film keren. Tapi siapa yg ingin cerita hidupnya digantungkan. Pernahkan kalian pikirkan nasib tokoh yg ada didalamnya. Menyedihkan.

Aku memilih untuk terus berjalan. Memang ada pilihan lain? Mati pun aku tak berani, menjadi seonggok jasad yg kehujanan di dalam tanah basah bukanlah hal keren. Aku belum mau mati, tentu aku masih ingin dicintai dan menghidupi hidupku ini.

Aku sedang mencoba merelakan apa yg begitu aku inginkan, dulu aku mampu merelakan yg lain, maka kenapa yg ini tidak? Aku tentu akan merelakannya, aku hanya butuh waktu -- aku butuh mereka. Mereka saja, mereka yg mampu membereskan segalanya.

Ini adalah tentang sesuatu yg begitu enggan kau lepaskan.
Semoga Tuhan tidak (lagi lagi) membaca tulisan ini. Dia sudah cukup bosan mendengarnya dari dalam hatiku. Melebihi berkali-kali.

-- Hakuna Matata --  @Falafu

0 komentar:

Posting Komentar

 

Fanisa Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea