TIME
Rabu, 18 Juni 2014
Minggu, 18 Mei 2014
satu inspirasi
Kau yang menginspirasi tulisan ini .
Satu dari ribuan teman yang kupunyai.
Terlalu banyak kisah yang tak bisa dituliskan.
Terlalu banyak gradasi warna jika dituang pada kertas
gambar.
Marah, ragu, haru menjadi cara kita berteman.
Bias tawa dan canda seperti bumbu dalam pelengkap rasa.
Kau yang menginspirasi tulisan ini.
Tidaklah kupanggil teman lagi ,
atau barangkali sahabatpun tak sepantasnya kujuluki.
Kau tak lain seperti saudara perempuan yang kupunyai.
Menjadikan ketulusanmu seperti anugrah dari yang Maha pencipta.
Tidak ada rasa benci meski sesekali tersakiti.
Jika saja ada cara untuk menggambarkan ketulusan.
Pastilah hanya putih tanpa ada titik hitam yang terpapar,
Pada kanvasnya.
Kau yang menginspirasi tulisan ini.
Tidaklah kupanggil teman lagi ,
atau barangkali sahabatpun tak sepantasnya kujuluki.
Kau tak lain seperti saudara perempuan yang kupunyai.
Menjadikan ketulusanmu seperti anugrah dari yang Maha pencipta.
Tidak ada rasa benci meski sesekali tersakiti.
Jika saja ada cara untuk menggambarkan ketulusan.
Pastilah hanya putih tanpa ada titik hitam yang terpapar,
Pada kanvasnya.
Kau yang menginspirasi tulisan ini
Barkali-kali kuucap kata terimakasih .
Sudah pasti tak akan mengganti.
Kata maaf juga tak bisa mewakili ,
Apa yang pernah kubuat hingga ada perih dihati.
Dengan ini kuberikan coretan tak bermakna.
Padamu yang telah menginspirasi,Jumat, 04 April 2014
Terbiasa (saja)
Mungkin memang benar, kalau membenci dan menyayangi seseorang itu hanya
perlu terbiasa saja.
Terbiasa diperhatikan maka lama-lama jadi sayang, terbiasa dikecewakan maka
lama-lama pun bisa tumbuh kebencian.
Karenanya harus pandai memilah-milah apa-apa yang jadi kebiasaan kita selama
ini.
Karena segalanya, baik benda atau pun manusia. Baik luka atau pun cinta, bisa
tiba-tiba hilang begitu saja dari pandanganmu. (falafu)
Lalu bagaimana kini jika telah terbiasa,? Terlalu sulit bukan
menghilangkan segala macam hal yang telah menjadi kebiasaan,
ya, aku telah terbiasa oleh caramu, aku tidak pernah ingin terbiasa, tapi
enatah bagaimana ada yang memaksaku untuk terbiasa, dan saat segala yang
terbiasa tiba-tiba hilang dari pandangan begitu saja rasanya hanya ada sesal
yang tersisa, sesal yang terpendam dalam. Membuat beretanya-tanya, membuat dada
terasa sesak bila teringat. Memang tidak seharusnya , tidak semestinya, kita
memulai segalanya karna pada dasarnya
semua akan berakhir.
Parahnya , bagaimana bisa kau hanya menjadikan kebiasaan ini lelucon
sesaat, padahal kau yang memulainya, membuatnya terbiasa lalu tiba-tiba hilang
begitu saja dari pandangan.
Dan kini yang perlu kulakukan membuat seolah segalanya tak pernah terjadi
seperti caramu kali ini, itu yang harus kumulai lagi, agar nantinya aku akan
terbiasa. . (fanisa)
Mungkin memang benar, kalau membenci dan menyayangi seseorang itu hanya
perlu terbiasa saja.
Terbiasa diperhatikan maka lama-lama jadi sayang, terbiasa dikecewakan maka lama-lama pun bisa tumbuh kebencian.
Karenanya harus pandai memilah-milah apa-apa yang jadi kebiasaan kita selama ini.
Karena segalanya, baik benda atau pun manusia. Baik luka atau pun cinta, bisa tiba-tiba hilang begitu saja dari pandanganmu. (falafu)
Terbiasa diperhatikan maka lama-lama jadi sayang, terbiasa dikecewakan maka lama-lama pun bisa tumbuh kebencian.
Karenanya harus pandai memilah-milah apa-apa yang jadi kebiasaan kita selama ini.
Karena segalanya, baik benda atau pun manusia. Baik luka atau pun cinta, bisa tiba-tiba hilang begitu saja dari pandanganmu. (falafu)
Lalu bagaimana kini jika telah terbiasa,? Terlalu sulit bukan
menghilangkan segala macam hal yang telah menjadi kebiasaan,
ya, aku telah terbiasa oleh caramu, aku tidak pernah ingin terbiasa, tapi
enatah bagaimana ada yang memaksaku untuk terbiasa, dan saat segala yang
terbiasa tiba-tiba hilang dari pandangan begitu saja rasanya hanya ada sesal
yang tersisa, sesal yang terpendam dalam. Membuat beretanya-tanya, membuat dada
terasa sesak bila teringat. Memang tidak seharusnya , tidak semestinya, kita
memulai segalanya karna pada dasarnya
semua akan berakhir.
Parahnya , bagaimana bisa kau hanya menjadikan kebiasaan ini lelucon
sesaat, padahal kau yang memulainya, membuatnya terbiasa lalu tiba-tiba hilang
begitu saja dari pandangan.
Dan kini yang perlu kulakukan membuat seolah segalanya tak pernah terjadi
seperti caramu kali ini, itu yang harus kumulai lagi, agar nantinya aku akan
terbiasa. . (fanisa)
Sabtu, 29 Maret 2014
Satu Momen
Aku tidak yakin
bahwa ini terlalu cepat berlalu, bahkan terkesan buru-buru.
Kehadiranmu
memang sudah aku sadari dari sekitar empat bulan lalu, tapi kutampik jauh-jauh.
Awalnya
aku hanya tau diri, berusaha tidak memperdulikanmu karna aku tidak begitu
yakin.
Tapi
caramu melihatku, membuatku ingin menerka sesuatu.
Kurasa
aku terlalu peka , atau mungkin hanya percaya diri saja.
kau memang tengah melirikku.
Hingga dua bulan lalu kau nyata datang dihadapanku.
Masih
membuatku ragu memang , meski saat itu
semua mulai transparan.
Perhatianmu,
cara bicaramu, tingkah lakumu, semua itu sudah cukup bagiku untuk yakin.
Perlahan
kau memang membuatku menerka –nerka lebih jauh.
Saat
itu egoku masih kupertahankan, bahwa aku tau bukan kau yang kumau.
Waktu
berjalan, dua bulan sudah kau ada dihadapanku seperti menawarkan sesuatu.
Masih
juga aku ragu, dan parahnya ingin tetap mengujimu dulu.
Hingga
aku sadar , kau mulai lelah menjauh perlahan, dan berlalu.
Aku
terpaku sejenak, menyadari sesuatu.
Ya,
kau sudah menjadi candu, membuatku menunggu.
Menyadari
ini telah usai, membuatku menertawai diriku sendiri.
Betapa
lemahnya hati ini, terlalu mudah dirasuki rasa hangat yang semu.
Dan
yang pasti, terimakih pernah hadir, mengisi
lemar cerita hidup ini.
Meski
pada akhirnya, semua menjadi cerita yang tak usai.
Langganan:
Postingan (Atom)

