Rabu, 18 Juni 2014

Penulis palsu

Diposting oleh Fanisa Story di 21.29 0 komentar

Minggu, 18 Mei 2014

satu inspirasi

Diposting oleh Fanisa Story di 08.03 0 komentar





Kau yang menginspirasi tulisan ini .
Satu dari ribuan teman yang kupunyai.
Terlalu banyak kisah yang tak bisa dituliskan.
Terlalu banyak gradasi warna jika dituang pada kertas gambar.
Marah, ragu, haru menjadi cara kita berteman.
Bias tawa dan canda seperti bumbu dalam pelengkap rasa.
Kau yang menginspirasi tulisan ini.
Tidaklah kupanggil teman lagi ,
 atau barangkali sahabatpun tak sepantasnya kujuluki.
Kau tak lain seperti saudara perempuan yang kupunyai.
Menjadikan ketulusanmu seperti anugrah dari yang Maha pencipta.
Tidak ada rasa benci meski sesekali tersakiti.
Jika saja ada cara untuk menggambarkan ketulusan.
Pastilah hanya putih tanpa ada titik hitam yang terpapar,
Pada kanvasnya.
Kau yang menginspirasi tulisan ini
Barkali-kali kuucap kata terimakasih .
Sudah pasti tak akan mengganti.
Kata maaf juga tak bisa mewakili ,
Apa yang pernah kubuat hingga ada perih dihati.
Dengan ini kuberikan coretan tak bermakna.
Padamu yang telah menginspirasi,

Jumat, 04 April 2014

Terbiasa (saja)

Diposting oleh Fanisa Story di 06.18 0 komentar


Mungkin memang benar, kalau membenci dan menyayangi seseorang itu hanya perlu terbiasa saja.
Terbiasa diperhatikan maka lama-lama jadi sayang, terbiasa dikecewakan maka lama-lama pun bisa tumbuh kebencian.
Karenanya harus pandai memilah-milah apa-apa yang jadi kebiasaan kita selama ini.
Karena segalanya, baik benda atau pun manusia. Baik luka atau pun cinta, bisa tiba-tiba hilang begitu saja dari pandanganmu. (falafu)
Lalu bagaimana kini jika telah terbiasa,? Terlalu sulit bukan menghilangkan segala macam hal yang telah menjadi kebiasaan,
ya, aku telah terbiasa oleh caramu, aku tidak pernah ingin terbiasa, tapi enatah bagaimana ada yang memaksaku untuk terbiasa, dan saat segala yang terbiasa tiba-tiba hilang dari pandangan begitu saja rasanya hanya ada sesal yang tersisa, sesal yang terpendam dalam. Membuat beretanya-tanya, membuat dada terasa sesak bila teringat. Memang tidak seharusnya , tidak semestinya, kita memulai segalanya  karna pada dasarnya semua akan berakhir.
Parahnya , bagaimana bisa kau hanya menjadikan kebiasaan ini lelucon sesaat, padahal kau yang memulainya, membuatnya terbiasa lalu tiba-tiba hilang begitu saja dari pandangan.
Dan kini yang perlu kulakukan membuat seolah segalanya tak pernah terjadi seperti caramu kali ini, itu yang harus kumulai lagi, agar nantinya aku akan terbiasa. . (fanisa)

Sabtu, 29 Maret 2014

Satu Momen

Diposting oleh Fanisa Story di 06.56 0 komentar




Aku tidak yakin bahwa ini terlalu cepat berlalu, bahkan terkesan buru-buru.
Kehadiranmu memang sudah aku sadari dari sekitar empat bulan lalu, tapi kutampik jauh-jauh.
Awalnya aku hanya tau diri, berusaha tidak memperdulikanmu karna aku tidak begitu yakin.
Tapi caramu melihatku, membuatku ingin menerka sesuatu.
Kurasa aku terlalu peka , atau mungkin hanya percaya diri saja.
 kau memang tengah melirikku.
Hingga  dua bulan lalu kau nyata datang dihadapanku.
Masih membuatku ragu memang ,  meski saat itu semua mulai transparan.
Perhatianmu, cara bicaramu, tingkah lakumu, semua itu sudah cukup bagiku untuk yakin.
Perlahan kau memang membuatku menerka –nerka lebih jauh.
Saat itu egoku masih kupertahankan, bahwa aku tau bukan kau yang kumau.
Waktu berjalan, dua bulan sudah kau ada dihadapanku seperti menawarkan sesuatu.
Masih juga aku ragu, dan parahnya ingin tetap mengujimu dulu.
Hingga aku sadar , kau mulai lelah menjauh perlahan, dan berlalu.
Aku terpaku sejenak, menyadari sesuatu.
Ya, kau sudah menjadi candu, membuatku menunggu.
Menyadari ini telah usai, membuatku menertawai diriku sendiri.
Betapa lemahnya hati ini, terlalu mudah dirasuki rasa hangat yang semu.
Dan yang pasti, terimakih pernah hadir, mengisi  lemar cerita hidup ini.
Meski pada akhirnya, semua menjadi cerita yang tak usai.



 

Fanisa Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea