Masih tersisa rupanya, kukira perasaan itu sudah
hilang seutuhnya.Ternyata aku salah besar. Aku masih tidak percaya, laki-laki
dihadapanku ini adalah mantan kekasihku. Orang yang pernah membuatku jatuh hati
untuk pertama kali, dan orang yang pertama kali juga membuatku merasa ingin
mati saja karna keegoisannya meninggalkanku setelah hal manis yang pernah
dilakukannya untukku. Gara masih menatapku, matanya setajam mata elang. Mata
yang selalu mampu membuat jantungku berdegub tak karuan. Kedua tangannya
menggenggam tangan kananku dengan erat. Aku masih saja tidak percaya orang yang
pernah dan tenyata masih kucintai itu datang lagi, meminta maaf lalu mengajakku
menikah. Bukankah dia begitu egois? Setelah apa yang pernah dilakukannya padaku
sekiatar lima tahun yang lalu. Saat kami masih sama-sama mengenakan seragam
putih abu-abu, kini memintaku menikah dengannya. Menikah.
“Gara,
kenapa harus mengajakku menikah?”pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari
mulutku sesaat setelah dia melontarkan tujuannya menemuiku.
Gara
menarik nafas lalu memghembuskannya dengan keras. Kemudian menjawab
pertanyaanku dengan tenang. “Karna lima tahun ternyata tidak cukup untukku bisa
melupakan kamu Ki. Aku sudah mencoba tapi selalu kamu yang hadir dimimpiku. Aku
sadar kamu tidak akan bisa tergantikan.”
“Begitu sederhanakah
alasanmu Gara?” Aku mencoba membalas tatapannya, tapi baru tiga detik sudah
menyerah. Kulepaskan genggamannya, dan kuputuskan untuk beranjak pergi
meninggalkan Gara yang masih duduk di kedai kopi dekat sekolah kami dulu. Aku terlalu shock dengan semua penuturannya. Alam
bawah sadarku masih belum bisa menerima dengan baik apa yang sebenarnya terjadi. ****
Lima
tahun lalu aku dan Gara bersekolah di SMA yang sama, dan kami saling mengenal
karna bergabung dalam ekstrakulikuler yang sama pula. Saat itu Gara yang
menjabat sebagai ketua ekstrakulikuler tersebut, sedangkan aku sebagai
bendaharanya. Gara bukan tipe cowok ramah dan asik dimata teman-temanku, dia
terkenal sangat pendiam dan dingin tapi tegas juga pandai. Sebelum kami dekat, dia telah
banyak jadi bahan gosip anggota ekstrakulikuler kami. Terutama dikalangan
anggota perempuan. Yang mereka bicarakan dari Gara adalah sikapnya yang
dingin,tenang dan selalu bisa memecahkan masalah dengan baik. Tapi pernah tanpa
sengaja aku mendapati Gara marah besar pada salah seorang temannya, entah pada
saat itu mereka terlibat dalam masalah apa. Aku yang berada dibelakangnya
spontan menenangkan Gara karna takut anggota ekstrakulikuler yang lain melihat
Gara marah. Gara punya sifat tempramental yang tidak banyak diketahui oleh
orang-orang. hanya sahabat-sahabatnya dan aku yang tau sifat buruk Gara itu. Setelah
peristiwa itu Gara mulai sering menyapa bahkan tak jarang mengajakku
ngobrol banyak hal . Lama-lama aku tau, kenpa Gara sering dibicarakan, dia
punya mata tajam dan senyum manis yang membuatku mulai punya perasaan berbeda.
Dia tidak sedingin yang dibicarakan, dia perhatian dan penuh kelembutan.
“Kamu tau Ki, kamu cewek pertama yang tau sifat burukku
selain keluargaku. Kamu juga yang pertama kali nenangin aku marah kayak waktu
itu.” Ungkapan itu muncul saat kami pergi berdua untuk pertama kali, saat itu
kami nonton film action yang dibintangi salah satu aktor favorit kami.
Hubungan kami semakin hari semakin dekat, sampai pada
akhirnya Gara tanpa sebab menjauhiku. Aku sudah mencoba banyak cara untuk
meminta setidaknya penjelasannya. Tapi dia enggan untuk bicara padaku. Hatiku
hancur benar pada saat itu, karna Segara Mahardika adalah cowok pertama yang
membuatku jatuh hati. Sebagian sahabat-sahabatku menyalahkannya, mengaggap Gara
termasuk cowok kurang ajar yang suka memberi harapan palsu dan mempermainkan
perempuan. Tapi, aku punya keyakinan lain. Ada hal yang disembunyikannya.
****
Jam menunjukkan pukul 7
pagi. Kantor masih sangat sepi. Hari ini aku ingin menyibukkan diri. Aku tidak
mau memikirkan kejadian kemarin sore. Kupejamkan mataku sesaat sebelum
sekelebat bayangan Gara muncul lagi dipelupuk mataku. Kata-katanya juga mulai
kembali terngiyang-ngiyang di telinga.
“Aku
minta maaf ki,karna udah menghindari kamu. Aku punya alasan. Tapi aku gak bisa
bilang pada waktu itu. Dan sekarang aku datang kesini unuk bilang...kalau..Kamu
maukan nikah sama aku?’’
Aku tidak bisa seperti
ini terus, kuputuskan untuk ke pantry kantor sekedar
menyeduh kopi. Saat berjalan menuju meja kerjaku, aku berpapasan dengan Shinta,
salah satu teman sekantor yang juga dulu teman SMAku.
“Kiki.” Shinta
menyapaku sambil mengekor mengikutiku kearah meja kerjaku.
“Gimana kemarin si
Gara?” Aku langsung membalikkan badan
menghadap Shinta, kaget dengan pertanyaannya.
“Kok kamu tau aku bertemu
dia?” Tanyaku balik.
“Ya taulah, kan aku
yang kasih kontak kamu ke dia.” Jawabnya enteng.
“Jadi dia udah minta
maaf? Aku dengar kalian pernah punya masalah yang belum diselesaikan waktu SMA,
makanya dia mencari kamu.”
Aku
diam menimbang sesuatu, kurasa Shinta tidak tau prihal Gara mengajakku menikah
secara tiba-tiba.
“Apa kamu tau
masalahnya?” Tanyaku ragu.
“Dia hanya bilang kalau dia pernah meninggalkan kamu
tanpa sebab, dan sebenarnya karna dia gak enak sama Rayan waktu itu. Kamu inget
Rayan kan? Teman sekelas kita dulu waktu kelas X. Rayankan sahabatnya, dan
katanya waktu itu Rayan naksir kamu. Aduh Jadi inget masa-masa SMA.” Shinta menjelaskan panjang lebar.
Sesaat
aku tertegun, itukah alasan Gara meninggalkanku tanpa sebab. Aku ingat dulu
pernah ada sepucuk surat didalam lokerku dari Rayan. Tapi surat itu sama sekali
tak kutanggapi karna aku memang malas menanggapi. Hatiku masih untuk Gara pada
saat itu. Ponsel ku berdering, Damas
memanggil. Kutarik nafas dalam-dalam sebelum mengangkat panggilan tersebut.
****
“ Mau minum apa Ki?”
Tanyanya lembut, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
“Aku belum haus, ada
hal yang ingin kubicarakan Gara.” Kataku membuka percakapan.
“Aku minta maaf karna
kemarin begitu saja pergi, kamu tau aku benar-benar gak siap mendengar ajakan menikahmu.” Aku kembali menarik nafas dan menghembuskannya. Ini harus
kuselesaikan saat ini juga.
” Gara, mungkin apa yang pernah terjadi di antara
kita hanya akan cukup menjadi kenangan. Aku senang kamu datang menemuiku lagi,
setidaknya aku tau apa alasanmu waktu itu pergi. Meskipun dari orang lain. Tapi
sekarang aku sudah punya Damas, teman kuliahku dulu. Kami baru jadian sekitar
tiga bulan lalu. Maaf Gara aku tidak bisa menerima kamu. “ Dadaku mulai terasa
lebih ringan setelah menjelaskan semuanya pada Gara.
Gara menyimak semua
yang kukatakan, dia mengangguk mengerti. Raut wajahnya berubah sedih. Aku tau
dia kecewa. Tapi ini sudah menjadi keputusanku . Meskipun aku sadar perasaanku
pada Gara belum sepenuhnya hilang. Kini
aku sudah punya kekasih, aku harus bisa melupakan Segara Mahardika untuk tetap
bisa setia pada pilihanku. Damas.
END