Senin, 01 Juni 2015

Segara

Diposting oleh Fanisa Story di 20.56 0 komentar


Masih  tersisa rupanya, kukira perasaan itu sudah hilang seutuhnya.Ternyata aku salah besar. Aku masih tidak percaya, laki-laki dihadapanku ini adalah mantan kekasihku. Orang yang pernah membuatku jatuh hati untuk pertama kali, dan orang yang pertama kali juga membuatku merasa ingin mati saja karna keegoisannya meninggalkanku setelah hal manis yang pernah dilakukannya untukku. Gara masih menatapku, matanya setajam mata elang. Mata yang selalu mampu membuat jantungku berdegub tak karuan. Kedua tangannya menggenggam tangan kananku dengan erat. Aku masih saja tidak percaya orang yang pernah dan tenyata masih kucintai itu datang lagi, meminta maaf lalu mengajakku menikah. Bukankah dia begitu egois? Setelah apa yang pernah dilakukannya padaku sekiatar lima tahun yang lalu. Saat kami masih sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu, kini memintaku menikah dengannya. Menikah.
“Gara, kenapa harus mengajakku menikah?”pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari mulutku sesaat setelah dia melontarkan tujuannya menemuiku.
Gara menarik nafas lalu memghembuskannya dengan keras. Kemudian menjawab pertanyaanku dengan tenang. “Karna lima tahun ternyata tidak cukup untukku bisa melupakan kamu Ki. Aku sudah mencoba tapi selalu kamu yang hadir dimimpiku. Aku sadar kamu tidak akan bisa tergantikan.”
“Begitu sederhanakah alasanmu Gara?” Aku mencoba membalas tatapannya, tapi baru tiga detik sudah menyerah. Kulepaskan genggamannya, dan kuputuskan untuk beranjak pergi meninggalkan Gara yang masih duduk di kedai kopi  dekat sekolah kami dulu. Aku terlalu shock dengan semua penuturannya. Alam bawah sadarku  masih belum bisa menerima dengan baik apa yang sebenarnya terjadi. 

                                                                            ****


Lima tahun lalu aku dan Gara bersekolah di SMA yang sama, dan kami saling mengenal karna bergabung dalam ekstrakulikuler yang sama pula. Saat itu Gara yang menjabat sebagai ketua ekstrakulikuler tersebut, sedangkan aku sebagai bendaharanya. Gara bukan tipe cowok ramah dan asik dimata teman-temanku, dia terkenal sangat pendiam dan dingin tapi tegas  juga pandai. Sebelum kami dekat, dia telah banyak jadi bahan gosip anggota ekstrakulikuler kami. Terutama dikalangan anggota perempuan. Yang mereka bicarakan dari Gara adalah sikapnya yang dingin,tenang dan selalu bisa memecahkan masalah dengan baik. Tapi pernah tanpa sengaja aku mendapati Gara marah besar pada salah seorang temannya, entah pada saat itu mereka terlibat dalam masalah apa. Aku yang berada dibelakangnya spontan menenangkan Gara karna takut anggota ekstrakulikuler yang lain melihat Gara marah. Gara punya sifat tempramental yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang. hanya sahabat-sahabatnya dan aku yang tau sifat buruk Gara itu. Setelah peristiwa itu Gara mulai sering menyapa bahkan tak jarang mengajakku ngobrol banyak hal . Lama-lama aku tau, kenpa Gara sering dibicarakan, dia punya mata tajam dan senyum manis yang membuatku mulai punya perasaan berbeda. Dia tidak sedingin yang dibicarakan, dia perhatian dan penuh kelembutan.
            “Kamu tau Ki, kamu cewek pertama yang tau sifat burukku selain keluargaku. Kamu juga yang pertama kali nenangin aku marah kayak waktu itu.” Ungkapan itu muncul saat kami pergi berdua untuk pertama kali, saat itu kami nonton film action yang dibintangi salah satu aktor favorit kami.
            Hubungan kami semakin hari semakin dekat, sampai pada akhirnya Gara tanpa sebab menjauhiku. Aku sudah mencoba banyak cara untuk meminta setidaknya penjelasannya. Tapi dia enggan untuk bicara padaku. Hatiku hancur benar pada saat itu, karna Segara Mahardika adalah cowok pertama yang membuatku jatuh hati. Sebagian sahabat-sahabatku menyalahkannya, mengaggap Gara termasuk cowok kurang ajar yang suka memberi harapan palsu dan mempermainkan perempuan. Tapi, aku punya keyakinan lain. Ada hal yang disembunyikannya.

****
Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Kantor masih sangat sepi. Hari ini aku ingin menyibukkan diri. Aku tidak mau memikirkan kejadian kemarin sore. Kupejamkan mataku sesaat sebelum sekelebat bayangan Gara muncul lagi dipelupuk mataku. Kata-katanya juga mulai kembali terngiyang-ngiyang di telinga.
“Aku minta maaf ki,karna udah menghindari kamu. Aku punya alasan. Tapi aku gak bisa bilang pada waktu itu. Dan sekarang aku datang kesini unuk bilang...kalau..Kamu maukan nikah sama aku?’’

Aku tidak bisa seperti ini terus, kuputuskan untuk ke pantry kantor sekedar menyeduh kopi. Saat berjalan menuju meja kerjaku, aku berpapasan dengan Shinta, salah satu teman sekantor yang juga dulu teman SMAku.
“Kiki.” Shinta menyapaku sambil mengekor mengikutiku kearah meja kerjaku.
“Gimana kemarin si Gara?” Aku langsung  membalikkan badan menghadap Shinta, kaget dengan pertanyaannya.
“Kok kamu tau aku bertemu dia?” Tanyaku balik.
“Ya taulah, kan aku yang kasih kontak kamu ke dia.” Jawabnya enteng.
“Jadi dia udah minta maaf? Aku dengar kalian pernah punya masalah yang belum diselesaikan waktu SMA, makanya dia mencari kamu.”
Aku diam menimbang sesuatu, kurasa Shinta tidak tau prihal Gara mengajakku menikah secara tiba-tiba.
“Apa kamu tau masalahnya?” Tanyaku ragu.
“Dia hanya bilang kalau dia pernah meninggalkan kamu tanpa sebab, dan sebenarnya karna dia gak enak sama Rayan waktu itu. Kamu inget Rayan kan? Teman sekelas kita dulu waktu kelas X. Rayankan sahabatnya, dan katanya waktu itu Rayan naksir kamu. Aduh Jadi inget masa-masa SMA.”  Shinta menjelaskan panjang  lebar.
Sesaat aku tertegun, itukah alasan Gara meninggalkanku tanpa sebab. Aku ingat dulu pernah ada sepucuk surat didalam lokerku dari Rayan. Tapi surat itu sama sekali tak kutanggapi karna aku memang malas menanggapi. Hatiku masih untuk Gara pada saat itu.  Ponsel ku berdering, Damas memanggil. Kutarik nafas dalam-dalam sebelum mengangkat panggilan tersebut.

****

Sore ini kuputuskan untuk menemui Gara selepas pulang dari kantor , dikedai kopi yang sama. Gara sudah duduk sambil menikmati kopi hitam yang menjadi favorinya.
“ Mau minum apa Ki?” Tanyanya lembut, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
“Aku belum haus, ada hal yang ingin kubicarakan Gara.” Kataku membuka percakapan.
“Aku minta maaf karna kemarin begitu saja pergi, kamu tau aku benar-benar gak siap mendengar ajakan menikahmu.” Aku kembali menarik nafas dan menghembuskannya. Ini harus kuselesaikan saat ini juga.
” Gara, mungkin apa yang pernah terjadi di antara kita hanya akan cukup menjadi kenangan. Aku senang kamu datang menemuiku lagi, setidaknya aku tau apa alasanmu waktu itu pergi. Meskipun dari orang lain. Tapi sekarang aku sudah punya Damas, teman kuliahku dulu. Kami baru jadian sekitar tiga bulan lalu. Maaf Gara aku tidak bisa menerima kamu. “ Dadaku mulai terasa lebih ringan setelah menjelaskan semuanya pada Gara.
Gara menyimak semua yang kukatakan, dia mengangguk mengerti. Raut wajahnya berubah sedih. Aku tau dia kecewa. Tapi ini sudah menjadi keputusanku . Meskipun aku sadar perasaanku pada Gara belum sepenuhnya hilang.  Kini aku sudah punya kekasih, aku harus bisa melupakan Segara Mahardika untuk tetap bisa setia pada pilihanku. Damas.

END


 

Fanisa Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea