Bukan, ini hanya sebuah kebetulan. Aku seperti dibutuhkan
atau lebih tapatnya hanya ada aku yang bisa kau mintai pertolongan. Tidak sepantasnya
aku merasakan ini , kupu” yang menari-nari diperut, dada yang terasa begitu
sesak karna bahagia. Heii! liahatlah
jurang itu, aku jelas bisa saja terjatuh kapanpun kau mau bukan? Ini bisa saja
jebakan, jebakan paling ampuh .
Ini sangat berbahaya , aku tidak bisa memungkiri bahwa kau
membuatku tersenyum diam-diam, dan terkadang mencemaskanmu tanpa sebab yang pasti, aku senang saat kau menanyakan
keadaanku, dan mengajakku berbincang apa saja, kadang topiknyapun tak bermutu sama sekali, tapi aku
senang. Hanya dengan seperti itu.
Pikiran ini terlalu Naif , ya jelas saja tidak masuk akal. Kau
siapa, aku siapa? Kita tidak mungkin punya perasaan itu satu sama lain, terlalu
jauh. Bukan jarak yang membuat kita
jauh, kau tau itu.tapi entahlah, sulit untuk bisa memahami ini. Tidak bisa
terbaca , kau sendiri bahkan tidak bisa kumengerti, apa maumu? Apa inginmu? Tidak
bisa aku pahami sama sekali.
Yang kulakan hanya berusaha sebisaku mengikuti langkahmu,
mencoba membaca situasi disekitar kita, meraba-raba jalan yang akan kau lalui,
dan mecari titik temu. Tapi sayangnya jalan itu seolah gelap, kau bisa saja
tiba-tiba berhenti dihadapanku, atau berlari sekencang-kencangnya
meninggalkanku pada gelap. Semua seolah kau yang mengaturnya. sementara aku?
Aku hanya akan terus meraba-raba sampai aku tau jawaban
pastinya, jawaban dari teka-teki yang kau buat, aku harus tau sebelum aku
merasa dipermainkan oleh keadaan dan euforia yang kau ciptakan atau sebelum aku
terjebak pada elegi untuk kedua kalinya.
Karna itu hanya akan membuat masa lalu yang terulang. Dan kau harus tau aku
paling tidak pandai membaca pikiran orang-orang sepertimu, terlalu sulit
dimengerti, karna terkadang tak punya alur yang pasti. Ini tentu saja kelemahan
yang harusnya bisa kukendalikan .Walau hanya dengan tidak menganggap semua
celotehannmu adalah keseriusan.
Fanisa _____

0 komentar:
Posting Komentar